Enola Holmes: The Feminist Holmes!
Tepatnya tiga hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk nonton Enola Holmes. Film besutan Netflix tersebut sudah dinanti nanti oleh para fans sejak lama. Bagaimana tidak, para pemeran utamanya merupakan aktor kelas atas Hollywood seperti Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Sam Claffin, Helena Bonham Carter, dan lain lain. Deretan aktor tersebut sudah dianggap sangat piawai dibidangnya.
1. Breaking the Rules Karena karakternya yang "adventurous" berlawanan dengan norma sosial Inggris kala itu, Enola sering melanggar aturan. Terlebih lagi tatkala ia tahu bahwa ibunya telah hilang secara misterius. Tanpa ragu, Enola segera pergi untuk mencari Eudoria ke London sendirian. Untuk gadis berusia 16 tahun, hal tersebut cukup berani dan sedikit gila. Jarak kediaman Holmes dengan London bisa diumpamakan Surabaya ke Jakarta. Cukup jauh bukan?! Rencana Enola-
untuk kabur tentu saja ia jalankan diam-diam. Enola mengecoh keluarganya dengan menggunakan sepeda ontelnya sebagai umpan. Iapun menyamar sebagai seorang bocah cowok lengkap dengan rambut pendek dan topi baret.
2. Revolusioner Patut diakui jika pola pikir Enola Holmes sangat berbeda. Sedari kecil ia tidak pernah diasuh orang lain selain ibunya, tidak juga menerima pendidikan resmi dari pemerintah. Namun, Eudoria mengajari Enola segalanya. Setiap minggu Enola dan Eudoria pergi ke perpustakaan terdekat untuk membaca buku. Tak kaleng-kaleng, buku yang mereka baca adalah buku buku revolusioner dari perempuan pada zaman itu. Eudoria juga mengajarkan tenis, panahan, dan martial arts sebagai pelatih motorik Enola, diselingi dengan eksperimen sains dan melukis sebagai penyeimbang. Pendidikan yang berbeda membuat Enola memiliki pola pikir yang revolusioner. Dia suka memecahkan masalah, sebuah karakter yang dimiliki Sherlock
Dalam perjalanannya ke London, Enola bertemu dengan Lord Viscount Tewksburry the Marquess of Basilweather yang tak lain merupakan keturunan kerajaan.
Sayangnya dia kabur akibat konflik internal yang terjadi akhir-akhir ini. Pertemuannya dengan Tewksburry mengantarkannya pada suatu masalah yang besar. Siapa yang tahu jika Tewksburry merupakan buronan kerajaan? Lord Tewksburry merupakan pewaris tahta satu-satunya yang akan dibunuh demi keuntungan satu pihak. Konflik tersebut sebenarnya sudah sampai di telinga para elite dan detektif, termasuk Sherlock. Tetapi entah karena alasan apa, Sherlock menolak untuk mengupas konflik tersebut.
Enola yang secara tidak sengaja harus terlibat akhirnya turut menyelesaikan konflik besar yang dijuluki "The Case of the missing Marquess". Dengan kecerdasaan yang dimiliki, ia belajar cepat dan tepat. Dengan waktu yang relatif singkat, kemampuannya sudah bisa dibandingkan dengan Sherlock.
Namun perjalanannya tetap penuh lika-liku. Ia sempat terjun bebas dari kereta karena dikejar oleh pembunuh bayaran. Di lain hari Enola harus menyamar sebagai seorang janda, dan yang paling mengerikan ialah ketika ia harus berduel dengan ratu Inggris yang membawa senjata laras pendek. Enola tidak pernah tau jika ia bisa menuntaskan kasus "Marquess". Sebagai seorang perempuan, pekerjaan detektif sangatlah tidak etis dan aneh. Perempuan zaman dahulu tidak diperbolehkan untuk bekerja berat. Wanita kaum elite bahkan tidak bekerja. Tugas wanita hanya sebatas di rumah, sebagai istri, pesolek, dan mengasuh anak. Sedangkan Enola dengan pola pikir revolusionernya berhasil membuktikan bahwa wanita juga bisa sukses di bidang lain. Bahkan di bidang yang di dominasi oleh pria.
3. Loving Herself Salah sat sifat Enola yang patut dijadikan contoh ialah bagaimana dia mencintai dirinya. Sifat Enola yang cerewet dan sedikit tomboy membuat orang-orang terdekatnya merasa risih bakan tidak suka. Kakaknya, Mycroft sampai harus memaksanya pergi ke sekolah khusus perempuan karena Enola dianggap sebagai wanita tidak bermoral. Kepala sekolahnya juga ikut frustasi dengan sikapnya. Enola tidak habis pikir, kenapa wanita harus bertindak sesuai aturan yang ada. Aturan-aturan tersebut bahkan tidak masuk akal. Mengapa perempuan harus memakai korset jika itu membuat mereka sesak? Kenapa mereka harus makan sedikit dan sangat terorganisir. Untuk tertawa saja, wanita harus mengatur besar suara mereka. Enola tidak memiliki kualitas tersebut dan ia tetap bangga. Meskipun dibenci banyak orang, tetapi yang terpenting baginya ialah self-love dan self-acceptance. Tidak memiliki karakter anggun dan kalem tidak membuat Enola merasa nilainya sebagai wanita berkurang. Malah sebaliknya, ia menunjukkan kepada dunia jika wanita yang sedikit berbeda juga memiliki nilai yang sama.
Nah sekarang bisa disimpulkan bukann kalau Enola memang seorang ikon perempuan masa kini. Ia benar-benar menunjukan jika perempuan itu mampu mengemban tugas selain tugas rumah. Mereka tidak hanya cantik, tetapi jua cerdas dan percaya diri. Apakah aku mempunyai kualitas seperti Enola? Hmmm tentu saja!





Comments
Post a Comment